Outing Class PKBM Kusalamitra di Keraton Jogja & Benteng Vredeburg

Kegiatan 11 Sep 2026 15 dibaca Administrator

Outing Class PKBM Kusalamitra di Keraton Jogja & Benteng Vredeburg

Outing Class PKBM Kusalamitra: Pembelajaran Lintas Mata Pelajaran di Keraton Yogyakarta dan Benteng Vredeburg

Yogyakarta – Pembelajaran tidak selalu harus berlangsung di dalam ruang kelas. Lingkungan sekitar juga dapat menjadi sumber belajar yang memberikan pengalaman nyata kepada peserta didik. Hal tersebut menjadi salah satu semangat PKBM Homeschooling Kusalamitra dalam melaksanakan kegiatan outing class lintas mata pelajaran dengan mengunjungi Keraton Yogyakarta dan Benteng Vredeburg.

Kegiatan outing class ini dirancang sebagai pembelajaran yang mengintegrasikan beberapa mata pelajaran, yaitu Sejarah, Bahasa Inggris, Ekonomi, Batik, dan Bahasa Jawa. Peserta didik tidak hanya mendapatkan materi secara teori, tetapi juga diajak melakukan pengamatan dan praktik secara langsung di lingkungan yang memiliki nilai sejarah, budaya, sosial, dan ekonomi.

Melalui kegiatan tersebut, peserta didik mendapatkan pengalaman belajar yang lebih kontekstual. Mereka melakukan pengamatan terhadap tempat bersejarah, mengenal budaya Jawa, berinteraksi dengan masyarakat, melakukan wawancara dengan pelaku UMKM, serta mempraktikkan kemampuan berkomunikasi menggunakan Bahasa Inggris dan Bahasa Jawa.

Keraton Yogyakarta sebagai Sumber Belajar Sejarah dan Budaya

Keraton Yogyakarta menjadi salah satu tujuan utama dalam kegiatan outing class PKBM Kusalamitra. Keraton tidak hanya dikenal sebagai tempat tinggal keluarga Kesultanan Yogyakarta, tetapi juga menjadi salah satu pusat sejarah dan kebudayaan Jawa yang masih memiliki peran penting hingga saat ini.

Secara historis, berdirinya Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat berkaitan erat dengan Perjanjian Giyanti yang ditandatangani pada 13 Februari 1755. Perjanjian tersebut membagi Kerajaan Mataram menjadi dua, yaitu Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Pangeran Mangkubumi kemudian menjadi Sultan Hamengku Buwono I dan menjadi pendiri Kasultanan Yogyakarta.

Setelah berdirinya Kasultanan Yogyakarta, pembangunan Keraton Yogyakarta dimulai pada 9 Oktober 1755. Keraton kemudian berkembang menjadi pusat pemerintahan sekaligus pusat kehidupan budaya masyarakat Yogyakarta. Hingga saat ini, berbagai tradisi dan kebudayaan yang berkembang di lingkungan keraton masih menjadi bagian penting dari identitas Yogyakarta.

Bagi peserta didik PKBM Kusalamitra, kunjungan tersebut memberikan kesempatan untuk melihat secara langsung lingkungan yang berkaitan dengan sejarah Yogyakarta. Materi Sejarah yang sebelumnya dipelajari di dalam kelas dapat dihubungkan dengan objek nyata yang mereka temui selama kegiatan.

Praktik Berkomunikasi dengan Abdi Dalem Menggunakan Bahasa Jawa

Salah satu pengalaman menarik dalam kegiatan outing class adalah kesempatan peserta didik untuk berkomunikasi dengan abdi dalem Keraton Yogyakarta menggunakan Bahasa Jawa. Kegiatan ini menjadi bagian dari pembelajaran Bahasa Jawa sekaligus memberikan pengalaman langsung dalam menerapkan unggah-ungguh atau tata krama berbahasa.

Peserta didik tidak hanya mempelajari kosakata dan tingkatan Bahasa Jawa melalui materi pembelajaran, tetapi juga mencoba menerapkannya ketika berinteraksi dengan orang lain. Dalam praktik tersebut, peserta didik belajar memperhatikan pilihan kata, sikap, serta tata krama ketika berbicara dengan orang yang lebih tua atau memiliki kedudukan tertentu dalam lingkungan budaya Jawa.

Pengalaman berkomunikasi secara langsung di lingkungan Keraton Yogyakarta diharapkan dapat memberikan pemahaman bahwa Bahasa Jawa tidak hanya merupakan mata pelajaran, tetapi juga bagian dari kehidupan dan budaya masyarakat Jawa yang perlu dijaga dan dilestarikan.

Berinteraksi dengan Wisatawan Mancanegara dalam Pembelajaran Bahasa Inggris

Pembelajaran Bahasa Inggris juga dikemas dalam bentuk praktik langsung. Berada di kawasan wisata Yogyakarta memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berinteraksi dengan wisatawan mancanegara.

Dalam kegiatan tersebut, peserta didik mencoba menggunakan Bahasa Inggris untuk membuka percakapan, menyampaikan pertanyaan, maupun melakukan komunikasi sederhana dengan wisatawan. Praktik ini menjadi pengalaman yang menarik karena peserta didik dapat menerapkan kemampuan Bahasa Inggris dalam situasi nyata.

Kegiatan tersebut sekaligus melatih keberanian dan kepercayaan diri peserta didik dalam berkomunikasi. Mereka belajar bahwa kemampuan berbahasa tidak hanya berkaitan dengan penguasaan tata bahasa dan kosakata, tetapi juga keberanian untuk menggunakan bahasa tersebut ketika berinteraksi dengan orang lain.

Pengalaman berbicara langsung dengan wisatawan mancanegara juga memberikan gambaran kepada peserta didik mengenai pentingnya kemampuan Bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari, khususnya di lingkungan pariwisata dan dunia kerja.

Wawancara Pelaku UMKM sebagai Praktik Pembelajaran Ekonomi

Selain mempelajari sejarah dan bahasa, peserta didik juga mendapatkan pengalaman praktik yang berkaitan dengan mata pelajaran Ekonomi. Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah mewawancarai pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang ditemui di lingkungan sekitar lokasi kegiatan.

Melalui wawancara tersebut, peserta didik dapat belajar secara langsung mengenai aktivitas usaha yang dijalankan oleh masyarakat. Mereka dapat menggali informasi mengenai jenis usaha, produk yang dijual, proses menjalankan usaha, pemasaran, pelanggan, hingga berbagai tantangan yang dihadapi dalam menjalankan kegiatan ekonomi.

Kegiatan wawancara memberikan pengalaman berbeda dibandingkan pembelajaran ekonomi hanya melalui buku. Peserta didik dapat melihat secara langsung bagaimana konsep ekonomi diterapkan dalam kehidupan masyarakat.

Selain memahami aktivitas ekonomi, praktik wawancara juga melatih peserta didik dalam menyusun pertanyaan, melakukan komunikasi, mendengarkan jawaban, mencatat informasi, serta menyampaikan kembali hasil wawancara. Dengan demikian, kegiatan ini sekaligus mengembangkan keterampilan komunikasi dan berpikir kritis.

Mengenal Batik sebagai Warisan Budaya dan Potensi Ekonomi Kreatif

Pembelajaran Batik juga menjadi bagian dari keterkaitan lintas mata pelajaran dalam kegiatan outing class. Batik merupakan salah satu warisan budaya Indonesia yang memiliki nilai seni, filosofi, keterampilan, sekaligus nilai ekonomi.

Yogyakarta sendiri dikenal sebagai salah satu daerah yang memiliki tradisi batik yang kuat. Melalui kegiatan pembelajaran, peserta didik dapat memahami bahwa batik bukan sekadar kain atau pakaian, tetapi merupakan karya budaya yang memiliki proses kreatif, motif, filosofi, dan nilai ekonomi.

Pengenalan batik dalam kegiatan ini juga memiliki keterkaitan dengan pembelajaran Ekonomi. Peserta didik dapat melihat bagaimana budaya dapat berkembang menjadi produk kreatif yang memiliki nilai jual dan dapat menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat.

Hal tersebut sejalan dengan pembelajaran keterampilan yang dikembangkan di PKBM Homeschooling Kusalamitra, yaitu memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengenal budaya sekaligus memahami potensi keterampilan sebagai bekal dalam kehidupan dan kewirausahaan.

Benteng Vredeburg dan Jejak Sejarah Yogyakarta

Selain Keraton Yogyakarta, peserta didik juga mengunjungi Benteng Vredeburg. Keberadaan benteng ini memiliki hubungan yang erat dengan perkembangan Kasultanan Yogyakarta pada masa awal berdirinya kerajaan.

Benteng Vredeburg pada awalnya dibangun atas permintaan pihak Belanda kepada Sultan Hamengku Buwono I. Pembangunan awal benteng dimulai sekitar tahun 1760 dengan bentuk yang masih sederhana. Seiring berjalannya waktu, bangunan tersebut diperkuat dan dikembangkan menjadi benteng yang lebih permanen.

Benteng tersebut kemudian dikenal dengan nama Rustenburg. Setelah mengalami berbagai perkembangan dan perubahan dalam perjalanan sejarah, nama benteng kemudian berubah menjadi Vredeburg, yang memiliki arti perdamaian.

Benteng Vredeburg menjadi salah satu tempat yang dapat digunakan untuk memahami perjalanan sejarah Yogyakarta dan Indonesia. Berbagai periode sejarah yang berkaitan dengan keberadaan benteng tersebut menjadikannya sumber pembelajaran yang menarik bagi peserta didik.

Dengan mengunjungi Benteng Vredeburg, peserta didik dapat melihat secara langsung peninggalan sejarah sekaligus memahami bahwa sebuah bangunan dapat menjadi saksi dari berbagai perubahan dan peristiwa yang terjadi dari masa ke masa.

Belajar Sejarah melalui Pengamatan Langsung

Kegiatan kunjungan ke Keraton Yogyakarta dan Benteng Vredeburg memberikan pengalaman yang berbeda dalam pembelajaran Sejarah. Peserta didik tidak hanya mempelajari sejarah melalui buku dan penjelasan guru, tetapi juga mengamati langsung bangunan, lingkungan, dan berbagai informasi sejarah yang tersedia di lokasi.

Dengan cara tersebut, peserta didik dapat menghubungkan materi sejarah dengan objek nyata. Mereka juga dapat memahami bahwa sejarah memiliki hubungan yang erat dengan kehidupan masyarakat saat ini, termasuk dalam perkembangan budaya, pariwisata, ekonomi, dan identitas suatu daerah.

Pembelajaran Lintas Mata Pelajaran dalam Satu Kegiatan

Outing class PKBM Homeschooling Kusalamitra menjadi contoh penerapan pembelajaran lintas mata pelajaran. Dalam satu kegiatan, peserta didik dapat mempelajari berbagai materi sekaligus melalui pengalaman yang saling berkaitan.

Pada mata pelajaran Sejarah, peserta didik mengenal perjalanan Keraton Yogyakarta dan Benteng Vredeburg. Pada mata pelajaran Bahasa Jawa, peserta didik mempraktikkan komunikasi dengan abdi dalem sekaligus belajar menerapkan unggah-ungguh dalam berbahasa.

Pada mata pelajaran Bahasa Inggris, peserta didik mempraktikkan kemampuan berbicara dengan wisatawan mancanegara. Sementara pada mata pelajaran Ekonomi, peserta didik melakukan wawancara dengan pelaku UMKM untuk memahami aktivitas usaha secara langsung.

Sementara itu, melalui pembelajaran Batik, peserta didik mengenal salah satu kekayaan budaya Yogyakarta yang memiliki nilai seni, sejarah, keterampilan, dan potensi ekonomi kreatif.

Melatih Keberanian, Komunikasi, dan Kemandirian

Berbagai praktik yang dilakukan selama outing class juga memberikan manfaat dalam pengembangan karakter peserta didik. Ketika melakukan wawancara dengan pelaku UMKM, peserta didik belajar berkomunikasi dan menggali informasi. Ketika berbicara dengan wisatawan mancanegara, mereka dilatih untuk berani menggunakan Bahasa Inggris dalam situasi nyata.

Sementara ketika berkomunikasi dengan abdi dalem menggunakan Bahasa Jawa, peserta didik belajar menerapkan tata krama dan unggah-ungguh. Berbagai pengalaman tersebut secara tidak langsung melatih keberanian, rasa percaya diri, kemampuan berkomunikasi, kesopanan, kerja sama, serta kemandirian.

Pembelajaran semacam ini memberikan ruang bagi peserta didik untuk belajar melalui pengalaman langsung. Kesalahan dalam berkomunikasi juga dapat menjadi bagian dari proses belajar sehingga peserta didik terdorong untuk terus mencoba dan memperbaiki kemampuan mereka.

Belajar dari Lingkungan, Mengenal Budaya, dan Membuka Wawasan

Melalui kegiatan outing class lintas mata pelajaran di Keraton Yogyakarta dan Benteng Vredeburg, PKBM Homeschooling Kusalamitra berupaya menghadirkan pembelajaran yang aktif, kontekstual, dan bermakna.

Kegiatan ini tidak hanya memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengenal tempat bersejarah, tetapi juga mengajak mereka berinteraksi dengan lingkungan dan masyarakat. Wawancara dengan pelaku UMKM, komunikasi dengan wisatawan mancanegara, serta interaksi dengan abdi dalem menjadi bagian dari pengalaman belajar yang mempertemukan teori dengan praktik.

Melalui pengalaman tersebut, peserta didik diharapkan semakin memahami pentingnya menjaga warisan sejarah dan budaya, menghargai Bahasa Jawa, meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris, memahami aktivitas ekonomi masyarakat, serta mengenal potensi budaya seperti batik sebagai bagian dari ekonomi kreatif.

Bagi PKBM Homeschooling Kusalamitra, kegiatan outing class merupakan salah satu bentuk pembelajaran yang memberikan ruang kepada peserta didik untuk belajar melalui pengalaman. Dengan membawa pembelajaran keluar dari ruang kelas, peserta didik diajak untuk melihat, mengamati, bertanya, berkomunikasi, mempraktikkan pengetahuan, dan mengambil nilai dari setiap pengalaman yang mereka temui.

Dengan demikian, outing class bukan hanya menjadi kegiatan kunjungan, tetapi menjadi bagian dari proses pendidikan yang mendorong peserta didik untuk belajar dari lingkungan, mengenal budaya, memahami kehidupan masyarakat, serta mengembangkan keterampilan yang dapat bermanfaat untuk kehidupan di masa depan.